Rabu, 12 Januari 2011

Tanjung Bira


Sudah lama rasanya tidak update tentang jalan-jalan di blog ini. Hampir saja saya lupa bagaiama caranya menulis. Sebenarnya banyak sekali yang bisa saya ceritakan mengingat empat bulan terakhir saya dipindah tugaskan ke tempat baru, tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, tempat itu bernama Celebes atau Sulawesi.

Sekarang saya bekerja di Makassar, tepatnya pada Proyek Pembangunan Gedung Rumah Sakit Pendidikan (Teaching Hospital) Universitas Hasanuddin. Di tengah-tengah kesibukan proyek yang tidak mengenal tanggal merah ternyata saya masih bisa menyempatkan diri berwisata menjelajahi pulau ini. Penjelajahan dimulai dari Sulawesi Selatan, mudah-mudahan di waktu depan saya bisa berkunjung ke wilayah Sulawesi lainnya. Amin.

Ini proyek yang sedang tim saya kerjakan, semoga dapat selesai tepat waktu

Awalnya saya buta sama sekali tentang Sulawesi, saya hanya tau tempat-tempat bagus di pulau ini sebatas di Bunakaen atau Wakatobi, selebihnya tidak ada. Setelah mendapat informasi dari rekan kerja saya yang merupakan orang asli Sulawesi, akhirnya saya mendapatkan banyak informasi tentang tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi. Ternyata banyak sekali obyek-obyek wisata bertaraf internasional di pulau ini. Untuk kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang Tanjung Bira. Check this out!

Jumat, 31 Desember 2010, saya bersama kontributor saya tercinta berencana melewati malam pergantian tahun di Pantai Bira. Sekitar pukul 10.00 WITA kami berangkat dari Kota Makassar. Bagi para backpackers yang ingin mengunjugi kota Makassar saya kasih info penginapan murah dengan kualitas jempolan, namanya Wisma Jampea, www.wismajampea.com. Letaknya sangat strategis, dekat dengan Karebosi dan Pantai Losari. Jika dari Bandara Sultan Hasanuddin kita naik saja bus Damri dengan tarif Rp 15.000,- menuju ke pusat kota, kemudian turun di China Town. Di sanalah letak wisma ini.

Rute awal menuju Tanjung Bira adalah dengan naik 'pete-pete' menuju Terminal Malengkeri. Pete-pete adalah sebutan untuk angkot di sini. Orang Makassar sangat medok, lebih parah daripada orang Jawa. Jadi jika ingin tanya jurusan angkot, jangan lupa ngomong 'pete-pete', jika tidak dijamin mereka tidak akan paham. ongkos pete-pete jauh dekat adalah Rp 3000,-


Pete-pete yang biasa saya tumpangi ke proyek (kalo ditinggal jemputan karena bangun kesiangan,, hehe..)

Tanjung Bira terletak di daerah paling selatannya Sulawesi Selatan, yaitu di Kabupaten Bulukumba, 200 km dari Kota Makassar. Dari Terminal Malengkeri kami naik 'panther' menuju Bulukumba. Tarifnya Rp 35.000,-. Jika beruntung anda bisa mendapatkan angkutan yang bersedia mengantarkan langsung sampai Tanjung Bira, tentunya dengan tambahan ongkos. Menuju Tanjung Bira kita akan melewati Kabupaten Gowa - Takalar - Jeneponto - Bantaeng - Bulukumba. Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam. Keadaan jalanan cukup bagus, hanya sedikit rusak ketika akan memasuki Kabupaten Bulukumba. Kendaraan bisa melaju kencang tanpa hambatan berarti, biasanya angkutan umum akan berhenti di Jeneponto untuk beristirahat makan. Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh indah karena jalur ini berada di tepi garis pantai Selat Makassar.

Pukul 16.oo WITA kami tiba di Terminal Bulukumba. Kami melanjutkan perjalanan naik pete-pete berwarna merah jurusan Tanah Beru - Tanjung Bira. Ongkos menuju Tanjung Bira dari Terminal Bulukumba sebesar Rp 10.000,-. Ada hal menarik saat perjalanan menggunakan pete-pete ini. Ternyata rasa kekeluargaan masyarakat di sini sangat kuat. Bayangkan saja pete-pete ini menjemput penumpang sampai ke depan rumah mereka, mau masuk ke dalam gang-gang pemukiman warga, bahkan mau menunggu berjam-jam karena penumpang tersebut belum siap. Bukan hanya itu, jangan kaget jika angkutan ini sering berhenti di tengah-tengah perjalanan mengikuti request dari penumpang. Ada yang minta singgah untuk mengantarkan titipan buat keluarganya, ada juga yang ingin mampir untuk membeli ikan atau sayuran yang dijual di pinggir jalan. Kami sukses dibuat geregetan olehnya, rencana kami untuk menikmati sunset terakhir tahun 2010 di tepi Pantai Bira terancam gagal.

Sebenarnya waktu tempuh normal dari Bulukumba menuju Tanjung Bira kurang lebih 1 jam. Karena hal-hal tak terduga seperti tersebut di atas kami memakan waktu lebih lama 1 jam dari waktu normal. Kami tiba di Pantai Bira pukul 18.00 WITA. Alhamdulillah masih belum terlambat untuk melihat sunset. Keadaan pantai ramai sekali waktu itu. Ternyata banyak orang yang ingin melewati malam tahun baru di sini. Setelah puas menikmati pemandangan matahari terbenam (walaupun tidak terlihat jelas karena cuaca mendung), kami pun berkeliling mencari penginapan. Tidak perlu khawatir, tersedia banyak penginapan di sini. Mulai dari tarif rupiah sampai dengan tarif euro. Untuk tarif rupiah harga menginap satu malam berkisar mulai dari 150 rb sampai dengan 600 rb. Nama penginapan-penginapan di sana antara lain Bira Beach Inn, Sapolohe, Anda Hotel, Bira View, dsb.

Sunset terakhir 2010 di Pantai Bira

Menanti malam pergantian tahun, saya bersama kontributor saya duduk-duduk santai di tepi Pantai Bira. Suasana sangat ramai, penuh sesak oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Tapi suasana ramai tersebut tidak mengurangi suasana keromantisan pantai ini, wue ee ee. Menjelang detik-detik pergantian tahun ratusan kembang api dinyalakan, suasana menjadi meriah, langit menjadi berwarna-warni, dan udara pun dibuat hangat olehnya. Orang-orang terlihat sangat antusias di malam ini, begitu juga dengan kami berdua, tentu mereka pun punya doa, harapan, dan cita-cita di tahun mendatang. Semoga semua harapan itu bisa terwujud dan keadaan negri ini menjadi lebih baik.. Amin..

Pesta kembang api ala Makassar

Keesokan paginya, setelah menyantap sarapan, kami berdua berjalan-jalan menyusuri pantai. Cuaca pagi itu sangat cerah, sinar matahari yang bersinar terang semakin menelanjangi keindahan pantai ini. Pantai Bira kembali menelan korban. Kami berdua adalah korban selanjutnya. Tidak berlebihan memang kalo saya menjuluki pantai ini dengan sebutan Wheat Flour Beach, karena memang pasir putihnya yang terasa sangat lembut seperti tepung terigu. Tidak rela rasanya berjalan menggunakan alas kaki, karena khawatir akan merusak kehalusan pasir di pantai ini :D. Airnya pun sangat jernih, bewarna biru muda, perpaduan antara air asin dan air tawar. Saking jernihnya saya berpikiran jika Sang Pencipta menguras pantai ini setiap hari.. hehe.. Ombak di pantai ini juga sangat tenang, mungkin karena letaknya yang terlindung oleh Pulau Selayar. Sangat mengasyikkan sekali bermain air di sini. Jika ingin bersantai di atas air anda bisa menyewa ban atau jika anda ingin berteriak lepas terdapat juga permainan banana boat. Hanya satu saran dari saya: Anda harus datang ke sini!! b^^d

Suasana pantai sangat ramai


Pasir putihnya sangat halus sepeti tepung terigu

Dari tepi Pantai Bira, dalam jarak yang cukup dekat Anda akan melihat sebuah pulau di seberang sana. Nama pulau itu adalah Pulau Liukang Loe. Kami pun tertarik untuk mengunjungi pulau itu. Setelah berkeliling mencari informasi akhirnya kami menemukan cara bagaimana menuju ke sana. Ternyata di pinggir-pinggir pantai terdapat beberapa perahu yang disewakan untuk menuju ke pulau itu. Tarif sewa perahu sebesar Rp 200.000,- muat untuk 15 orang penumpang. Kami pun berangkat menuju ke Pulau Liukang Loe diantar oleh seorang awak kapal bernama Bapak Oemar, Nama lengkapnya Oemar 'Bira', hehe.. kami tertawa saat mendengar bapak itu memperkenalkan namanya. Sebuah nama yang labil menurut saya, mungkin jika dia tinggal di Hawaii namanya akan berubah menjadi Oemar Hawaii.. :)).

Pulau Liukang Loe dilihat dari Pantai Bira

Perjalanan menuju Pulau Liukang Loe memakan waktu kurang lebih 15 menit. Sepanjang perjalanan Bapak Oemar tidak pernah berhenti bercerita. Dia banyak bercerita tentang keindahan pantai ini, tentang para langganannya yang merupakan orang-orang besar, tentang masa mudanya dulu, dan tentang sejarah bagaimana dia bisa sampai di pulau ini. Jika dari logatnya berbicara anda akan mengira jika bapak ini orang asli Sulawesi, karena walaupun berbahasa Indonesia tapi logat Bugisnya masih kental terdengar. Dugaan kami ternyata salah, Pak Oemar ternyata asli Glenmore. Mungkin sebagian dari anda tidak tahu dimanakah daerah tersebut, tapi saya tidak, saya tahu betul daerah tersebut karena saya sering lewat sana :). Letaknya ada di Propinsi Jawa Timur, tepatnya antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Pak Oemar sudah tujuh tahun merantau ke Sulawesi, dulunya dia bekerja sebagai awak sebuah kapal barang. Singapura dan Malaysia sudah sering ia kunjungi, gajinya pun tergolong cukup tinggi, tetapi itu semua tidak menjamin ia betah bekerja di sana. Ternyata hatinya tertambat di sini, bersama teman-temanya ia memutuskan untuk tinggal dan mengadu nasib di pulau ini. "Dulu pulau ini sepi, tidak ada orang yang berkunjung ke sini, saya dan teman-teman yang memperkenalkan keindahan pulau ini kepada para wisatawan", ujarnya.

Tiba di Pulau Liukang Loe, tiba-tiba Pak Oemar menghentikan perahunya sekitar 1 km dari bibir pantai. Kami bertanya-tanya mengapa jauh sekali dia menambatkan perahunya. Kemudian dia menyodorkan alat snorkling kepada kami lengkap dengan pelampungnya. Sebelumnya kami memang sudah melihat jika ia membawa banyak sekali pelampung dan alat snorkling di ujung perahunya. Tetapi kami memang tidak ada niatan sama sekali untuk snorkling di pulau ini, karena mengira pasti hanya ada hamparan pasir putih di bawah sana. Dia terus membujuk, dia bilang jika pemandangan di bawah sana sangat cantik, kami tidak akan pernah menyesal menerima tawarannya. Akhirnya kami pun terbujuk rayuan manisnya. Dengan harga sewa Rp 50.000,- akhirnya mas kawin berupa seperangkat alat snorkling pun kami terima.. hehe..

Jujur saya malu mengatakan hal ini. Saya mengaku sebagai seorang backpacker, banyak pantai sudah saya kunjungi, tetapi saya belum pernah sekali pun snorkling,, hehe.. Ini adalah pengalaman pertama saya. Partner saya pun juga begitu rupanya, bahkan berenang saja ternyata dia tidak bisa,, ckckck.. Untung saja bapak Oemar dengan sabar mau mengajari kami berdua. Dia mengajari kami bagaimana cara memakai pelampung, cara memakai kacamata selam, cara mengambil napas yang benar dan sebagainya. Saat-saat pertama mencelupkan kepala ke dalam air adalah saat-saat yang paling sulit. Kami berdua sering sekali tersedak air laut. Saya pun melihat ke arah partner saya yang dari tadi batuk-batuk karena menelan air laut, matanya merah dan ada cairan kental keluar dari hidungnya,, hahaha,, menjijikkan.. >,<>

Saya dan dia

Tubuh kami terapung-apung bebas di atas lautan, pandangan kami sudah tidak lagi tertuju ke daratan, tapi ke dasar permukaan laut menikmati indahnya alam laut. Kami hanya membiarkan tubuh kami terombang-ambing terbawa arus laut yang tenang, entah kemana tubuh ini akan dibawanya. Ternyata laut di sini terlampau tenang, dari tadi kami hanya terombang ambing di dekat perahu, padahal kami kira kami sudah berada berkilo-kilo jauhnya dari perahu. Dasar pemula, melihat kami Pak Oemar langsung turun tangan, takut janji-janjinya tentang keindahan terumbu karang di sini kami anggap omong kosong akhirnya ia membimbing kami menuju spot-spot cantik di laut ini. Dengan otot-ototnya dia mendorong kaki kami sehingga tubuh kami bergerak maju membelah lautan. Nampaknya dia sudah hafal betul setiap jengkal lautan pulau ini. Terima kasih bapak.

Sekarang saya sedikit mengerti tentang laut, jika anda lihat air laut itu dari kejauhan berwarna biru muda, itu tandanya pasti ada terumbu karang di bawahnya. Sama halnya dengan lautan di Pulau Liukang Loe ini, airnya sangat jernih, terlihat berwarna biru muda dari kejauhan, dan ternyata terumbu karang tumbuh subur di bawahnya. Subhanalloh, cantik sekali pemandangan bawah laut di sini. Pemandangan seperti ini belum pernah saya lihat sebelumnya kecuali di televisi dan alam mimpi. Ingin sekali mengabadikannya dengan kamera saya, tapi apa daya jangankan menyelam ke dalam air, terkena percikan air saat perjalanan tadi saja kamera saya sudah ngambek tidak mau menyala :(

Pak Oemar tanpa lelah terus mendorong tubuh kami menyusuri lautan. Kurang lebih satu kilometer jauhnya kami menjelajahi lautan Pulau Liukang Loe. Sesekali dia berhenti, kemudian menjelaskan tentang biota laut yang ada di sana. Dia hafal jenis-jenis ikan yang hidup di laut ini. Saat saya meminta untuk membawa pulang bintang laut berwarna biru, dia tidak mengijinkannya. Pak Oemar sangat peduli terhadap kelestarian taman laut di sini.

Kira-kira seperti inilah bintang laut berwarna biru yang ingin saya bawa pulang -_-'

Setelah lelah ber-snorkling kami pun istirahat di pantai Pulau Liukang Loe. Pemandangan pantai ini sungguh indah. Airnya sangat jernih, walaupun pasir di pantai ini tidak selembut di Pantai Bira. Sayang sekali kamera saya masih tidak mau menyala, jadi saya tidak sempat mengabadikan pemandangan di pulau ini. Jika anda berencana berwisata ke pulau ini, saran saya sempatkan juga mampir ke Pulau Kambing, letaknya tidak jauh dari Pulau Liukang Loe. Menurut Pak Oemar pemandangan laut di sana tidak kalah bagusnya dengan Pulau Liukang Loe. Di sana terdapat palung laut yang curam, dan sering juga dijumpai ikan hiu. Tetapi mereka sangat ramah, tidak mengganggu manusia yang sedang diving. Karena waktu kami terbatas, kami tidak bisa meneruskan petualangan ke sana. Tapi tenang, kami sudah memasukkannya dalam daftar tempat wajib dikunjungi. Di waktu depan pasti kami akan kembali b^^d

Sabtu, 18 Desember 2010

Ijinkanlah Aku Rindu

Ijinkanlah Aku Rindu, kalimat tersebut saya kutip dari sebuah lirik lagu ciptaan Ebiet G Ade, berjudul "Elegi Esok Pagi". Lirik lagu memang terkadang bisa mewakilkan perasaan seseorang. Ribuan lirik telah terlahir di dunia ini dan dari ribuan tersebut pasti ada beberapa yang mengena pada kita. Tanpa disadari entah mengapa tiba-tiba saya tersentuh oleh lirik lagu lawas ini, padahal ketika lagu ini diciptakan saya belum lahir. Inilah yang dinamakan kekuatan lagu. b^^d

Ijinkanlah kukecup keningmu
Bukan hanya ada di dalam angan
Esok pagi kau buka jendela
Kan kau dapat seikat kembang merah

Engkau tahu aku mulai bosan
Bercumbu dengan bayang-bayang
Bantulah aku temukan diri
Menyambut pagi membuang sepi

Ijinkanlah aku kenang
Sejenak perjalanan
Dan biarkan ku mengerti
Apa yang tersimpan di matamu

Barangkali di tengah telaga
Ada tersisa butiran cinta
Dan semoga kerinduan ini
Bukan jadi mimpi diatas mimpi

Ijinkanlah aku rindu
Pada hitam rambutmu
Dan biarkan ku bernyanyi
Demi hati yang risau ini

Barangkali di tengah telaga
Ada tersisa butiran cinta
Dan semoga kerinduan ini
Bukan jadi mimpi diatas mimpi

Pagi ini, Jum'at 17 Desember 2010 di tengah suara derasnya air hujan, di tengah bisingnya suara pekerja bangunan yang tak pernah lelah mendirikan gedung ini, dan di tengah kesibukan menyelesaikan segala permasalahan proyek, terdengarlah lagu ini. Walaupun dengan volume yang kecil jika dibandingkan dengan segala kebisingan yang ada tetapi lagu ini telah sukses menculik telinga dan hati saya.

Saya benci rindu. Hampir sama seperti racun, jika ia mulai menyerang dan sedikit saja terlintas di kepala harus sesegera mungkin disingkirkan, cepat-cepat dicegah sebelum ia berhasil menyerang ke pusatnya, yaitu 'hati'. Bukan karena saya tidak sayang pada orang terkasih, tetapi karena rasa itu sungguh menyiksa, tidak ada obatnya, kecuali dengan bertemu langsung. Dear God the only thing I ask of you is to hold her when I'm not around (nyanyi lagi deh,, hehe..)

Bulan Desember sebentar lagi berakhir. Hari bersejarah bagi kami semakin dekat. 1 Januari 2011 nanti, tepat 1 tahun umur hubungan ini. Suka duka sudah kami lalui, ternyata tidak mudah memang membangun sebuah hubungan (apalagi jarak jauh). Saya ingin bertemu dia di hari itu, banyak hal yang ingin saya bicarakan, banyak hal yang ingin saya tanyakan, banyak hal yang ingin saya ceritakan.. semoga saja bisa..

kenangan yang tersisa:

2 Januari 2010 @WBL (Wisata Bahari Lamongan) dalam rangka Family Gathering PT. Merak Jaya Beton, perusahaan tempat dia pertama kali bekerja. Ini adalah pertama kali kami jalan-jalan bareng berdua. Sempat kaget juga karena langsung diberi ijin oleh orang tuanya, suatu kehormatan bagi saya diberi kepercayaan seperti ini. Walaupun masih malu-malu kucing tapi saya merasa senang sekali waktu itu. Dia membuatku merasa nyaman ada di dekatnya. Sejak saat itu kami jadi sering keluar bareng.


17 Januari 2010 @Montupa (Monumen Tugu Pahlawan Surabaya). Rencana awalnya ingin jalan-jalan ikut Surabaya Heritage Track, tapi apadaya kami terlambat mendaftar, ternyata pesertanya sudah full. Sebagai orang asli Surabaya, dia berhasil menjadi guide yang baik, dia langsung mengajakku mengunjugi Montupa. Tempat yang belum pernah saya kunjugi sebelumnya walaupun sudah kuliah selama 4 tahun di Surabaya. Tengkyu, kamu memang paling pinter membuatku tidak pernah merasa bosan.


24 Januari 2010 @Museum Sampoerna dalam rangka mengikuti Surabaya Heritage Track. Rencana kami akhirnya terwujud. Tur gratis keliling Kota Surabaya naik Bus Sampoerna melihat-lihat warisan budaya di Kota Surabaya. Pengetahuanku tentang kota ini bertambah, sebuah kota yang punya nilai sejarah tinggi. Kota yang tidak pernah mungkin saya lupakan, banyak kenangan indah di sini.

Beberapa bulan kemudian kami harus berpisah. Urusan pekerjaan yang mengharuskan kami berpisah. Saya ditugaskan ke Makassar sedangkan dia ditugaskan ke Asam-Asam, Kalimantan Selatan. Tidak mudah lagi untuk bertemu, hobi nonton di setiap akhir pekan harus berakhir, hobi makan di Mahkota Royal Plaza harus berakhir, hobi jalan-jalan keliling kota pun juga harus berakhir. Tapi satu yang pasti, hubungan ini tidak boleh berakhir, kami tidak akan menyerah pada keadaan :)


13 September 2010 atau H+3 Hari Raya Idul Fitri 1431 H @Gunung Bromo Probolinggo. Momen yang pas untuk silaturahmi, ini adalah pertama kali dia kukenalkan kepada keluargaku di Jember. Dulu dia pernah bilang kalau ingin sekali melihat Gunung Bromo, dan saya berjanji akan membawanya ke sana suatu hari nanti. Senang sekali bisa mewujudkan keinginannya saat itu.


14 September 2010 @Pantai Papuma Jember. Obyek wisata andalan kota Jember. Berkunjung ke Jember belum lengkap jika tidak ke pantai ini. Pemandangannya indah dan masih alami. Suatu hari nanti saya akan mengajaknya main-main lagi ke kota ini.


17 Nopember 2010 @Samalona Island Makassar. Dia mengunjungiku ke Makassar. Kami banyak menghabiskan waktu berdua. Kuajak dia menjelajahi Kota Makassar. Walaupun hanya 2 hari kita bertemu, tapi itu sungguh berharga, karena waktu sekarang sudah menjadi barang yang sangat mahal >,<


17 Nopember 2010 @Trans Studio Makassar. Seharian penuh kita jalan-jalan mengelilingi kota Makassar, walaupun capek tapi kita tidak pernah mengeluh. Kami benar-benar memanfaatkan waktu bersama. Bermain-main wahana di Trans Studio mengingatkan saya pada awal-awal dulu kita pacaran. Seperti dejavu, kami mencoba semua permainan di sini, sama seperti ketika di WBL dulu. Perasaanku juga sama seperti dulu, merasa nyaman ada di dekatnya, tidak pernah berubah.

Minggu, 21 November 2010

Dear God


A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love
Purpose hard to find
While I recall all the words you spoke to me
Can't help but wish that I was there
Back where I'd love to be

Dear God the only thing I ask of you
Is to hold her when I'm not around
When I'm much too far away
We all need that person who can be true to you
But I left her when I found her
And now I wish I'd stayed
'Cause I'm lonely and I'm tired
I'm missing you again, oh no
Once again

There's nothing here for me on this barren road
There's no one here while the city sleeps
And all the shops are closed
Can't help but think of the times I've had with you
Pictures and some memories will have to help me through


Kamis, 20 Mei 2010

S.E.W


It is the time you have to go
You know i’m gonna think of you
Needing you, missing you a lot

And if you stay far from this land
Would you still be loving me always
Like all the love you gave to me before

Now it’s about eleven fourty five
I’m still writing at my desk a song
The song i hope you remember my true love for you

I can lie to myself
That i don’t need you
I’ll be waiting for you
Although it take a million year
I’ll be missing you my lady…now

now…now…

na na na….

Now i’ll be waiting for you
Although it take a million years
I’ll be missing you my lady

ps: “Just go to sleep, don’t worry. I’ll still love you tomorrow.”

Sabtu, 21 November 2009

Madakaripura


Madakaripura tersusun atas tiga kata yaitu: Mada Kari Pura, yang artinya “Tempat Tinggal Terakhir”. Sebuah tempat yang dipilih oleh Maha Patih Gajah Mada sebagai tempat bertapa untuk memperoleh kesentosaan hingga ia menjadi sakti mandraguna. Gajah Mada adalah seorang Patih dari Kerajaan Majapahit yang namanya sangat besar karena telah berjuang dengan gigih mempersatukan wilayah Nusantara (bukan hanya dari Sabang sampai Merauke tapi dari Wanin hingga Madagaskar). Di tempat ini pula ia menghabiskan sisa hidupnya, mempersiapkan diri untuk menuju nirwana.

Semua orang pasti suka jalan-jalan. Jadi tidak susah bagi kami mengumpulkan personel untuk liburan kali ini. Yang menjadi masalah adalah menentukan tempat yang akan dituju. Karena setiap orang punya selera masing-masing dan untuk menyatukan itu semua bukan hal yang mudah. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata Madakaripura. Tempat ini dipilih karena menurut kami selain punya pemandangan alam yang bagus juga punya nilai historis yang tinggi.

Pada hari Sabtu, tanggal 14 Nopember 2009, pukul 01.30 WIB tim berangkat dari Surabaya, tepatnya dari Sacharosa 63. Tim yang diberi nama Tim 8 atau TPF (Tim Pencari Foto) berangkat dengan mengendarai Kijang Innova, yang merupakan mobil sewaan. Tim tidak langsung menuju Madakaripura, tetapi menuju Penanjakan terlebih dahulu untuk menikmati sunrise. Dikemudikan oleh brother Harys dan dinavigatori oleh brother Fajar (brother adalah sebutan wajib bagi sesama anggota Sacharosa), mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Harap maklum jika kami tergesa-gesa karena jam keberangkatan telah molor sekitar 1,5 jam dari yang direncanakan.

Jadi hak milik selama 24 jam

Menuju Penanjakan dari Surabaya, jalan yang terdekat adalah lewat Pasuruan, kemudian masuk ke Desa Puspo. Medannya cukup berat, jalan sempit, menanjak dan berkelok-kelok, tapi untungnya kondisi aspal masih bagus. Sekitar pukul 03.30 WIB tim sampai di gerbang masuk Penanjakan. Lapor ke pos terlebih dahulu serta membayar tarif masuk Rp. 2500,- per orang dan parkir Rp. 6000,-. Sebagai informasi, jika menuju Bromo melewati jalur ini mobil pribadi diperbolehkan masuk. Berbeda dengan jalur Probolinggo, kita diharuskan untuk menitipkan kendaraan pribadi dan melanjutkan perjalanan menggunakan jeep/hardtop dengan biaya sewa sekitar Rp. 300.000,- . Hmm.. sama dengan ongkos sewa mobil kami satu hari :-O

Tim 8 (dari kiri: me, nurul, arbay, fajar, anin, hanif, harys, ocik)

Dari gerbang masuk menuju Penanjakan ternyata masih harus menempuh kurang lebih 10 km lagi. Jam-jam segini ternyata banyak sekali jeep yang menuju Penanjakan, untungnya kami berada di depan mereka. Tapi nampaknya mobil kami melaju terlalu lambat. Maklum, namanya saja mobil keluarga dan driver belum mengenal medan dengan baik. Karena jalanan sempit dan tidak mungkin untuk menyalip, jadilah mobil kami bagaikan safety car di balapan F1. Bedanya safety car yang satu ini tidak dihormati sama sekali, karena selalu diklakson oleh jeep-jeep di belakanng. Hufh. Tapi brother Harys bisa beradaptasi cepat dengan jalanan, dan akhirnya kami berhasil meninggalkan jauh jeep-jeep itu di belakang. Salut!!! Diburu waktu memang tidak mengenakkan. Perasaan kami waktu itu mungkin hampir sama dengan perasaan Sangkuriang, yaitu berharap agar matahari tidak terbit terlebih dahulu.

Sudah diserbu turis

Sekitar pukul 04.00 WIB akhirnya tim sampai di puncak Penanjakan, untung saja sang fajar belum datang. Tapi mengapa tempat ini begitu ramai, jangankan untuk mendapatkan sudut bagus mengambil gambar, untuk meletakkan tripod saja seperti tidak ada tempat. Wisatawan asing dan lokal yang jumlahnya hampir sama, tampak antusias sekali menunggu matahari terbit di sini. Jadilah sunrise tersebut hanya kami abadikan dalam hati dan pikiran masing-masing. Tapi brother Hanif, yang juga merupakan fotografer majalah ITS online, berhasil menemukan tempat bagus untuk foto-foto. Walaupun harus menuruni bukit yang agak curam, tapi tempat ini jauh dari jamahan wisatawan lainnya dan pemandangannya benar-benar mantabz. Photo sesssion pun dimulai. Syiip bro!!!

Brother Hanif Santoso

Nemu tempat sepi di bawah tower-tower

Foto-foto dulu

Cara liatnya kepalanya agak dimiringkan sedikit

Setelah puas menikmati pemandangan di Penanjakan, perjalanan menuju Madakaripura dilanjutkan. Jalan yang harus dilalui adalah berupa turunan tebing dari puncak Penanjakan. Jalan begitu curam dan rem pun harus bekerja keras di sini. Sampai-sampai bau hangus rem tercium dari dalam mobil. Tapi pemandangan yang disuguhkan sungguh luar biasa dan benar-benar menakjubkan. Semua terlihat kecil sekali dari atas sini. Sungguh Allah Maha Besar.

Gajah di pelupuk mata tak tampak, apalagi semut di seberang lautan

Selesai melewati turunan tajam, rintangan selanjutnya berupa lautan pasir. Tidak kalah berbahaya dengan medan sebelumnya, untung saja mobil kami tidak sampai terjebak di lautan pasir ini. Pemandangannya pun tidak kalah maknyus di sini. Setelah tadi melihat pemandangan dari ketinggian, sekarang kami disuguhi view dari bawah. Melihat dinding kaldera yang menjulang tinggi mengelilingi Gunung Bromo, sungguh megah rasanya. Obyek wisata Gunung Bromo pun akhirnya kami lewati. Sayang tidak sempat mampir, bukannya sombong, tapi karena tujuan utama tim adalah Madakaripura. Sampai jumpa Bromo lain waktu kami pasti mampir.

Empuk-empuk gimana gitu

Kulonuwon Bromo

Sekitar pukul 10.00 WIB, akhirnya tim sampai juga di Madakaripura. Obyek wisata ini terletak di Desa Sapeh, Kecamatan Lumbang, sekitar 6 km dari lautan pasir Bromo. Di gerbang masuk terdapat patung seorang laki-laki bertubuh gempal dan rambut yang digelung membulat. Ya benar, itu adalah patung Gajah Mada. Memang terasa sekali kalau Gajah Mada merupakan ikon obyek wisata ini. Tarif masuk ke lokasi ini adalah Rp 2.500,- per orang.

Model rambutnya Angga 'Maliq & d'essentials'

Setelah memarkir mobil, kami didatangi oleh penduduk setempat yang menawarkan jasa sebagai guide untuk membantu meniti jalan menuju air terjun. Karena ini pertama kalinya kami ke sini, jadi kami mengiyakan saja penawaran tersebut. Awalnya bapak itu menawarkan harga Rp 50.000,- tetapi setelah tawar-menawar, harga akhirnya adalah Rp 30.000,-. Sebenarnya itu masih tergolong mahal, karena menurut pengalaman teman kami, warga sekitar sudah bersedia dengan dibayar Rp 10.000,- saja. Untuk menuju ke air terjun kami harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 2 km. Sesungguhnya di obyek wisata ini sudah disediakan jalan setapak atau pedestrian untuk pengunjung. Karena pernah terjadi longsor maka beberapa titik di pedestrian terputus, jadi kami harus bersusah payah menyebrang sungai dan melewati batu-batu. Tetapi sungguh itu semua malah menambah nikmatnya perjalanan ini. Walaupun di sungai juga banyak terdapat lintah, jadi harus tetap waspada!

Jalan setapak

Korban lintah of the day adalah Fajar.. wkwkwk..

Setelah kurang lebih 15 menit berjalan, akhirnya tim sudah mendekati lokasi air terjun. Tidak terasa capek sama sekali, karena pemandangan selama perjalanan telah menghapusnya. Tebing-tebing tinggi di kanan dan kiri bagaikan ingin menjepit kami saja. Terdapat warung kecil, pos penjaga, dan toilet di sana. Guide pun mengingatkan untuk menyimpan barang-barang kami, karena deretan air terjun nanti bisa membuat kami basah kuyup. Di sana pun sudah ada yang berjualan tas kresek dan juga menyewakan payung seharga Rp. 2000,-. Setelah semuanya siap perjalanan pun dilanjutkan.

Ternyata benar apa yang dikatakan oleh guide kami, untuk menuju air terjun utama kami harus lewat di bawah deretan air terjun kecil. Jumhlanya ada lima buah, disinilah letak keseruannya, seperti main hujan-hujanan, karena limpahan air tidak bisa dihindari sehingga membuat kami menjadi basah kuyup. Tapi ingat harus tetap waspada karena jalan yang dilalui cukup licin, tidak jarang di antara kami yang jatuh terpeleset saat menginjak batu. Pemandangan di titik ini pun sangat cantik, tidak heran jika sebuah produk air mineral memasangnya pada iklan mereka (Aqua, red).

Diunduh dari: www.wikimedia.org

Mendekati air terjun utama, lorong semakin menyempit, jalanan berupa batu-batu terjal dan semakin sulit untuk dilewati. Akhirnya tim sampai pada sebuah jalan buntu berupa cerung sempit dengan diameter sekitar 25 m. Di sana terdapat sebuah air terjun yang sangat besar, dengan ketinggian sekitar 200 m. Air dengan kekuatan besar melimpah dari atas, jatuh ke kolam yang dalamnya sekitar 7 m. Suara gemuruh air pun terdengar keras sekali. Agak mengerikan memang karena kami serasa terkurung di dalam ruangan alam ini, seolah-olah berada di dasar sebuah tabung batuan yang tinggi. Di tengah-tengah air terjun ini terdapat sebuah goa yang menganga, konon di sanalah Gajah Mada menghabiskan sisa usianya untuk bertapa.

Diunduh dari: www.tempatwisataindonesia.com

Keperkasaan yang dahsyat di Madakaripura inilah yang menjadi alasan Gajah Mada memilihnya sebagai tempat untuk menghabiskan sisa usia. Betapapun panjang sebuah perjalanan, pasti akan sampai juga pada titik akhir. Betapapun sempurna keindahan mentari pagi di ufuk timur, betapapun garang ia membakar bumi tepat di siang hari, ketika senja membayang, ia harus tenggelam juga. Lakon Gajah Mada telah pula sampai di ujungnya. Tragedi Bubat telah melukai begitu banyak pihak dan berdampak sangat luas. Gajah Mada ditempatkan sebagai pihak paling bersalah atas tragedi itu. Ia dihujat, dicaci, dan dicela. Namun, sesungguhnya sang legendaris ini juga merasa terluka. Ia terluka karena merasa kerja kerasnya selama dua puluhan tahun lebih pada akhirnya tak ada harganya sama sekali. Segala pengorbanan yang ia berikan untuk dapat menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji-panji Majapahit justru gagal di langkah terakhir. Mungkin air terjun inilah yang menjadi saksi bisu kesedihan hati Sang Maha Patih.

Sungguh tempat yang sangat sakral, tidak heran mendengar cerita guide kami jika Madakaripura juga sering dijadikan tempat semedi orang-orang yang ingin mencari ilmu batin. Tepat di samping air terjun besar itu, juga terdapat sebuah air terjun kecil yang bernama “Tirta Serwana”. Banyak orang yang mempercayai jika air dari “Tirta Serwana” ini berkhasiat memberikan kesembuhan dan membuat awet muda. Saya pun langsung mencoba menikmati guyuran air di sana, seperti pijat refleksi, enak sekali rasanya. Khasiatnya ternyata juga langsung terasa, yaitu gatel-gatel.. hehehe..

Ini bukan Gajah Mada yang lagi mandi :)

Sayang sekali derasnya cipratan air dari air terjun membuat kami mengurungkan niat untuk mengambil foto. Hanya kamera pocket yang digunakan untuk sekedar foto bersama. Jadi saya sertakan saja gambar-gambar yang didapat dari hasil browsing.

Diunduh dari: www.tempatwisataindonesia.com

Kami akan kembali

NB:
Thanks to Allah SWT atas keindahan yang telah diciptakan dan kesempatan bagi kami untuk menikmatinya. Terima kasih juga buat tim 8 atas waktunya, serta tidak lupa buat Brother Harys sebagai driver, benar-benar darah muda.

Senin, 17 Agustus 2009

JFC 8


Hooaaammm.. Akhirnya bangun juga dari tidur panjang.. Sudah lama tidak posting di blog, bukan karena gak ada ide atau kehabisan bahan cerita, tapi karena waktu saya yang tersita oleh urusan per-Tugas Akhir-an. Alhamdulillah.. Sekarang semuanya sudah beres, lega sekali rasanya dan nama saya pun menjadi bertambah panjang, yaitu Rizki Setiadi, ST. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.

Biasanya setelah menyelesaikan suatu pekerjaan yang sangat berat, hal yang paling enak dilakukan adalah klik kanan-refresh (atau tekan F5), menyegarkan kembali jiwa dan raga kita dari rutinitas yang melelahkan. Jangan pernah menyepelekan refreshing, karena itu adalah salah satu kebutuhan. Anda bisa gila jika tidak melakukannya, jadi luangkanlah saja barang sedikit waktu. Refreshing kali ini saya isi dengan mengunjungi tempat yang sungguh indah, sampai-sampai saya memutuskan untuk tidak ikut pergi berlibur bersama teman-teman ke Pulau Bali. Tempat itu tiada lain adalah my beloved city, Jember, hahaha.. home sweet home, memang tidak ada tempat yang seindah rumah sendiri.

Saya tahu anda kecewa mendengarnya, mungkin dalam benak anda berpikir "Apa bagusnya sih Jember, tidak mungkin ada cerita menarik dari sana". Yah.. namanya juga terpaksa, karena masalah finansial. Selain menyita kapasitas otak ternyata Tugas Akhir juga menyita pundi-pundi keuangan saya, sehingga saya tidak bisa berlibur ke tempat yang jauh. Tapi tenang dulu.. kalo tidak ada cerita menarik, tidak mungkin saya posting ke blog ini.

Pernah dengar tentang BBJ (Bulan Berkunjung ke Jember). Ya, itu adalah program pemerintah Kabupaten Jember untuk menarik wisatawan datang ke Jember. Bulan Juni-Agustus adalah waktu dimana saya menganjurkan kepada anda untuk mengunjungi kota ini. Serangkaian acara menarik telah disiapkan oleh pemerintah daerah dalam kurun waktu tersebut, sayang sekali jika dilewatkan. Jadi selain berkunjung ke wisata alamnya, anda juga bisa menikmati acara-acara yang disajikan. Salah satu acara yang akan saya ceritakan berikut ini bernama JFC (Jember Fashion Carnaval).

Minggu, 2 Agustus 2009, ruas jalan mulai dari Alun-Alun sampai dengan GOR Kaliwates dijejali oleh ratusan ribu orang. Padahal ruas jalan ini merupakan jalan utama di Kota Jember, sehingga lalu lintas di kota ini menjadi benar-benar lumpuh hari itu. Jalanan memang sengaja ditutup dikarenakan ada event JFC. JFC adalah fashion carnaval on the street, yang merupakan fashion dance dan fashion runway terpanjang di dunia dan telah tercatat di MURI sebagai peragaan busana dengan catwalk terpanjang 3,6 km, lebih panjang dari Festival Rio De Janeiro di Brazil, yang hanya 1,1 km. Selain itu jika di Rio Carnival anda dapat melihat ratusan orang berkostum menarik dan sama, maka uniknya di JFC ini anda akan melihat ratusan orang berkostum menarik, tetapi tidak ada satupun yang sama.


Sesuai dengan visi yang diusung yaitu menjadikan Jember sebagai kota wisata mode pertama di Indonesia bahkan di dunia, JFC yang sudah memasuki tahun penyelenggaraan ke 8, kini menjadi salah satu agenda penting fashion internasional. Tidak heran jika banyak wisatawan atau jurnalis asing yang sengaja datang ke Jember untuk menyaksikan event ini. Acara JFC ini selalu mendapat liputan dari media lokal maupun internasional.(Kompas, Tempo, Media Indonesia, Antara, Reuters, AFP, National Geographic, dll).



Tahun ini JFC mengangkat tema utama “World Unity”, yang berarti satukan dan damaikan dunia. Tema ini merupakan pesan dalam mengantisipasi segala hal yang berkembang di dunia baik dari masalah sosial, ekonomi, budaya maupun politik. Sekaligus mengingatkan kita akan dampak isu global warming, krisis pangan dan lain-lain.




Sebanyak 550 peserta berkarnaval, berfashion runway dan dance, di jalan utama kota Jember disaksikan oleh ratusan ribu penonton di kanan dan kiri jalan. Mereka terbagi dalam 8 defile yang masing-masing defile mencerminkan trend fashion pada tahun yang bersangkutan. Defile pertama adalah defile Archipelago yang mengangkat tema busana nasional dari daerah tertentu secara berkala seperti Jawa, Bali, Sumatera, dan seterusnya. Defile lainnya mengangkat tema fashion yang sedang trend apakah dari suatu negara, kelompok tertentu, film, kejadian atau peristiwa global lainnya. Ketujuh defile tersebut antara lain Barricade, Off Earth, Gate-11, Roots, Methamorphic, Undersea, dan Robotic. Semua busana dibuat dalam bentuk kostum yang kesemuanya dikompetisikan untuk meraih penghargaan-penghargaan. Total ada 75 piala JFC yang diperebutkan.



Peserta merancang, membuat, dan memperagakan sendiri kostum mereka termasuk juga make up dan hair style yang ditampilkan. Untuk itu sebelumnya seluruh peserta yang berasal dari berbagai latar belakang usia, pendidikan dan status sosial mendapatkan in house training fashion design, fashion runway, dance, presenter, make up dan hair style yang diberikan secara cuma-cuma. Tujuannya adalah menggali potensi diri peserta dengan memberikan kesempatan untuk pengembangan kreativitas sehingga akan terlahir ide-ide baru baik dibidang seni tari / dance, merancang busana, aksesories dll. Hal ini sesuai dengan misi JFC yaitu suatu proses atau perjalanan yang membawa banyak manfaat bagi pengembangan dunia pendidikan kita (SDM), kesenian, budaya dan perkembangan perekonomian. So, see you in the next World Fashion Carnival.

Jumat, 05 Juni 2009

Ijen Crater


Minggu tenang perkuliahan, memang tepat rasanya jika digunakan untuk refreshing. Kali ini saya dibuat bingung, karena berada di antara dua pilihan liburan yang jadwalnya bersamaan. Pilihan pertama adalah ikut kuliah lapangan MESDA (Manajemen Ekonomi Sumber Daya Air), yang rencananya akan mengunjungi kota Tulungagung dan Kediri. Melihat bangunan-bangunan sipil di bidang hidroteknik yang unik, tidak bisa ditemui di tempat lain. Sungguh menarik bukan? Apalagi bagi calon civil engineer seperti saya, akan sangat bermanfaat. Ditambah lagi tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun, karena semua sudah ditanggung oleh jurusan. Sepertinya tidak ada alasan untuk menolak tawaran yang satu ini.

Sedangkan pilihan kedua adalah jalan-jalan ke kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Tidak kalah menariknya dengan yang pertama. Menikmati mahakarya-Nya yang sungguh indah. Obyek wisata yang menjadi tujuan turis-turis asing sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali atau Lombok. Namanya sudah terkenal di luar sana. Bahkan pernah dipublikasikan dan terkenal di Perancis melalui Tayangan Ushuwaia Adventure yang memperlihatkan Nicolai Hulot sang-penjelajah, duduk diatas perahu karet bercerita tentang asal-usul Kawah Ijen. Akhirnya pilihan saya jatuh kepada Kawah Ijen, dan sampai sekarang saya tidak merasa menyesal sedikit pun.

Minggu, 31 Mei 2009, pukul 6 pagi, menggunakan dua buah mobil, saya bersama kedua-belas teman berangkat menuju Kawah Ijen. Sumber informasi mengatakan untuk mencapai Kawah Ijen saat ini tidaklah terlalu sulit. Terdapat dua cara, pertama melalui kota Banyuwangi sejauh 38 km ke barat melalui Licin, Jambu, Paltuding (1,600 mdpl). Cara kedua adalah melalui kota Bondowoso ke timur melalui Wonosari, Sempol (800 mdpl), Paltuding sejauh 70 km. Cara kedua ini paling banyak ditempuh orang karena melalui jalan aspal mulus, sedangkan cara pertama melalui jalan makadam dengan tanjakan yang cukup curam. Karena kami start dari kota Jember, jadi kami melewati cara kedua, yaitu melalui kota Bondowoso.

Tapi ternyata jalanan tidak semulus yang dibayangkan seperti informasi di atas. Setelah melalui kota Bondowoso, jalanan berubah menjadi ‘ganas’. Melintas di tengan hutan, yang rasanya tidak berpenghuni, jalan aspal rusaklah yang kami dapati. Mungkin akibat truk-truk pengangkut kayu dari hutan. Seperti kita ketahui, perkerasan aspal didesain sesuai rencana beban yang akan melewatinya. Setelah itu barulah bisa ditentukan tebal perkerasan aspal dan jenis aspal yang akan digunakan. Untuk kasus ini, jelas sudah mengapa jalan menjadi rusak. Karena jalan ini tidak didesain untuk dilalui beban berat, sehingga perkerasan aspal menerima beban yang jauh di luar kemampuannya. Hmm.. masalah klasik perkerasan jalan di Indonesia yang tidak kunjung terselesaikan. Sangat disayangkan jalan ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah, padahal merupakan akses pariwisata yang potensial. Terpaksa kami harus berjalan dengan kecepatan rendah, karena mobil yang kami gunakan adalah mobil jenis ‘Kijang’. Kesabaran kami diuji di sini, untung saja pemandangan yang disuguhkan begitu indah, jadi bisa mengurangi kejenuhan ini. Saran saya untuk anda, jika ingin menuju Ijen, gunakanlah mobil touring, sejenis jeep, sehingga bisa ‘melibas’ jalanan ini, tidak perlu buang-buang waktu.

Harus sabar

‘Habis gelap terbitlah terang’, cocok untuk menggambarkan keadaan ini. ‘Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian’, rasanya juga cocok. Ya, setelah melewati jalan yang membuat trauma (kata driver), akhirnya kami sampai di suatu tempat bernama Jampit, Kalisat. Daerah terbatas areal Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII, dengan tiga pintu gerbang yang berbeda. Di setiap pintu gerbang kami diminta untuk mengisi buku tamu dan tujuan perjalanan. Pemandangan di rute ini sangat bagus, dengan kebun kopi arabikanya yang hijau teratur, hutan pinus Perhutani dan hutan perawan Cagar Alam Ijen-Merapi yang lebat. Jangan heran jika melewati daerah ini jalan begitu sepi, jarang sekali berpapasan dengan kendaraan lainnya, memang serasa jalan pribadi. Tapi harus tetap waspada, karena jalannya sempit, jadi jika berpapasan salah satu mobil harus mengalah. Kunjungan singkat satu hari dapat dilakukan, namun bermalam di perkebunan kopi adalah pilihan yang tepat. Tersedia paket agro-wisata mengunjungi kebun kopi dan unit pemrosesan biji kopi yang patut dipertimbangkan. Juga terdapat air terjun serta pemandian air panas. Tersedia juga guest house di dalam kompleks perumahan perkebunan pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Tarif penginapan bervariasi. Di Arabica homestay harga mulai 115 ribu. Sayang waktu kami terbatas, jadi tidak bisa mampir.

Gerbang I, Areal Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII Jampit, Kalisat

Pemandangan di rute Jampit, Kalisat

Tidak lama kemudian setelah melewati pos ketiga atau pos terakhir areal Perkebunan Kopi PTPN XII, sampailah kami di daerah Paltuding (1.600 mdpl). Ini adalah tempat penitipan kendaraan, dan tempat memulai pendakian. Tarif masuk sangat murah yaitu Rp 1.500,00 saja. Pendakian ke kawah Ijen umumnya disarankan dimulai pada pagi hari, karena mengantisipasi pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian pada siang hari. Untuk mengejar perjalanan di pagi hari, pengunjung disarankan menginap di lokasi terdekat. Tersedia Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, bisa juga membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding. Tarif penginapan di pos paltuding tersedia mulai harga 75 ribu. Tapi pada saat itu kami mulai mendaki pada pukul 10.00, sudah tergolong siang, dan turis-turis pun terlihat sudah turun dari puncak.

Gerbang masuk

Untuk mencapai kawah Ijen, dari pos Paltuding ditempuh dengan jalan kaki sejauh kurang lebih 3 km. Sebenarnya bukan jarak yang terlalu jauh. Tetapi berjalah sejauh 3 km di ketinggian di atas 1.600 mdpl, dan dengan kemiringan hampir 30o, bukan pekerjaan yang ringan. Saran saya, jangan membawa orang tua berwisata ke sini, kecuali fisiknya masih oke. Karena tidak lucu ketika nanti di tengah perjalanan, mereka kecapekan dan minta diantarkan pulang ke pos, hmmm.. Sepanjang perjalanan anda akan banyak berpapasan dengan pemikul belerang yang ramah bertukar salam, tapi ingat anda harus memberi jalan pada mereka, karena mereka sedang membawa beban yang berat.

Tim siap berangkat!

Patok informasi (1 hm = 0,1 km)

Setelah berjalan kurang lebih 2 km, anda akan sampai pada tempat bernama Pos Bundar. Sebuah pos dimana para penambang belerang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.

Medan yang harus dilalui untuk sampai puncak

Patok Pos Bundar

Setelah 2 jam kami melakukan pendakian, dengan jalan santai dan banyak beristirahat di tengah-tengah perjalanan, akhirnya sampai juga di puncak dengan ketinggian 2.400 mdpl dan temparature rata-rata di sekitar kawah adalah 13oC di siang hari dan 2oC di malam hari. Tiba di bibir kawah, pemandangan menakjubkan berada di depan mata. Sebuah danau hijau tosca dengan diameter 1 km berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Mungkin inilah alasan mengapa dinamakan Ijen (berasal dari kata ‘ijo’= hijau dalam bahasa Jawa). Danau tersebut sepertinya berada di dalam kawah dengan dinding kaldera setinggi 300-500 m. Sebuah puncak gunung menjulang berada disampingnya. Asap putih yang mengepul dari salah satu kawahnya membumbung tinggi ke udara, menjadikannya kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berwarna hijau jade. Penambang-penambang belerang terlihat kecil dari atas. Untuk menuju ke sumber penghasil belerang tersebut, kita perlu menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak yang dilalui penambang. Masker, slayer, atau sapu tangan basah sangat diperlukan, karena seringkali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan.

Wow!

Keunikan yang utama dari wisata Kawah Ijen selain panoramanya yang sangat indah adalah melihat penambangan belerang tradisional yang diangkut dengan cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia saja (Welirang dan Ijen). Beban yang diangkut masing-masing per orangnya sampai seberat 85 kg. Beban ini luar biasa berat buat kebanyakan orang, manakala belerang diangkut melalui dinding kaldera yang curam sejauh 800 m, kemudian menuruni gunung sejauh 3 km. Upah yang diterima pemikul adalah Rp 600 untuk setiap 1 kg. Seorang pemikul biasanya hanya mampu membawa turun satu kali setiap harinya, karena beratnya pekerjaan.

Pemikul belerang sedang melalui dinding kaldera

Kami memutuskan untuk turun ke kawah, tapi tidak semua anggota ikut. Di dasar kawah, sejajar dengan permukaan danau terdapat tempat pengambilan belerang. Asap putih pekat keluar menyembur dari dalam pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang. Lelehan 600oC fumarol berwarna merah membara meleleh keluar dan membeku karena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang. Terkadang bara fumarol menyala tak terkendali, yang biasanya segera disiram air untuk mencegah reaksi piroporik berantai. Batu-batuan belerang ini dipotong dengan linggis dan diangkut kedalam keranjang. Bernapas dalam lingkungan seperti ini dibutuhkan perjuangan tersendiri. Jika tidak terbiasa, seperti kami contohnya, akan mengalami sesak nafas dan sedikit pusing karena terlalu banyak menghirup asap belerang. Mata pun mengeluarkan air seperti sedang mengupas bawang merah. Baunya hampir mirip dengan gas Lumpur Lapindo, mungkin dikarenakan sama-sama mengandung unsur 'S' (sulphur). Para penambang umumnya bekerja sambil menggigit kain sarung atau potongan kain seadanya sebagai penapis udara, tapi sekarang sudah ada yang menggunakan masker.

Harus ekstra hati-hati

Pemandangan kawah dari bawah

Berikut foto-foto yang diunggah dari http://www.boston.com:
Photo oleh: Ulet Ifansasti (Getty Images)

Kawah Ijen di malam hari

Penambang belerang

Fumarol berwarna merah membara meleleh keluar

Otot-otot pemikul belerang

Belerang yang sudah membeku dan siap diangkut

Dari bawah kami bisa melihat kawah dengan jelas. Kawah ini memiliki kedalaman 200 meter, dan derajat keasaman nol. Keasamannya cukup kuat untuk melarutkan pakaian dan jari jemari, katanya. Tapi saya sempat mencuci tangan dengan air kawah, dan ternyata tidak terjadi apa-apa, cuma terasa sedikit perih setelahnya. Di sana kami juga bertemu dengan dua orang wisatawan dari Bandung, dan sempat sedikit mengobrol. Menurut mereka pemandangan di kawah Ijen lebih bagus daripada kawah Putih di Bandung. Pemandangannya masih alami, kata mereka. Sayang sekali saya tidak sempat melihat sunrise di sini, tapi lain kali saya akan kembali. Kamu juga harus coba berkunjung ke sini, jika butuh guide, saya siap mengantarkan.


NB:
Thanks to Allah SWT atas keindahan yang telah diciptakan dan kesempatan bagi kami untuk menikmatinya. Terima kasih juga buat 12 tim lainnya: Kiki, Githa, Decy, Putri, Andre, Dipta, Martha, Irsyad, Rian, Ari, Nurul, Fajar.

Terimakasih buat mas Ulet Ifansasti atas foto-foto penambang belerangnya yang luar biasa. Saya ambil dari koleksi Big Picture:
http://www.boston.com/bigpicture/2009/06/sulfur mining in kawahijen.html

Sebuah fakta menarik kalo Kawah Ijen adalah salah satu danau asam terbesar di dunia!
http://news.softpedia.com/news/The-Largest-Acid-Lake-on-Earth-81388.shtml